Sabtu, 27 Januari 2024

Jumat, 14 April 2023

Tanya Jawab FILOSOFI MONTESSORI (kelas Relay)

TANYA-JAWAB FILOSOFI MONTESSORI

Narasumber: Nafila Rahmawati


Pertanyaan 1

-------------

Assalamu'alaikum

Nama : *Putry*

Usia anak : 4 tahun

Domisili : Sidoarjo

☝🏻Saya memiliki anak usia 4 tahun dan sekarang anak saya sudah masuk TK A. Anak saya termasuk anak yang aktif. Dia suka bermain . Ketika saya ajak anak untuk belajar atau mengaji . Anak saya termasuk susah untuk fokus atau berkonsentrasi. Memang saya tidak memaksa anak saya . Saya ikut alur anak saya disaat dia mau belajar atau mengaji saya ikutin dan sebaliknya. Anak saya termasuk cepat bosan kalo belajar atau mengaji. 

Bagaimana mengatasi agar anak bisa fokus ya Bun , fokus belajar atau pun kegiatan lainnya? Terima kasih.

FILOSOFI MONTESSORI (Kelas Relay)

 Profil Pemateri


Nafila Rahmawati

Surabaya, August 19th 1990

A Mother, Montessori Enthusiast


🌷 Montessori at Home Rumah Aruna 2017

🌷 Lesson Plan Montessori Madness 2017

🌷 Language Workshop IIMC 2018

🌷 Kurikulum 101 Rumah Aruna 2018

🌷 Diploma Montessori 2 1/2 - 6 years Modern Montessori International 2018

🌷 Founder Montessori Newbie (Telegram 2017, Instagram 2018)


@nafilandscape

@montessorinewbie

Senin, 04 Juli 2022

Pupuk Kompos dari Kotoran Kelinci

PUPUK KOMPOS DARI KOTORAN KELINCI

Kotoran Kelinci telah terbukti dapat membantu menyuburkan tanah, makanya dahulu banyak petani sayuran di dataran tinggi yang mana mereka juga berternak kelinci sebagai usaha sampingannya. Petani dapat memanfaatkan kotorannya menjadi pupuk kompos/ kandang, karena di dalam kotoran kelinci terdapat zat-zat yang lengkap yang dibutuhkan tumbuhan.

Ada beberapa penelitian yang menyatakan kandungan dari kotoran kelinci lebih berkualitas dari pada kotoran kambing dan sapi. Selain itu dalam melakukan pengolahannya tidak dibutuhkan biaya tambahan, jadi kita hanya memanfaatkan limbah yang ada saja.

Selasa, 10 Mei 2022

Mengelolah Stres Pengasuhan

MENGELOLAH STRESS PENGASUHAN

Nara Sumber: Khotimatun Na'imah, S.Psi., S.Pd.I


Hai mak 😍😍 sudah teriak berapa kali hari ini ? 

"Ih, suami gak mau bantuin sih?" 

"LDR gini-gini amat ya.." 

"Duh, pusiiiiiing saya kalau anak-anak pada rempong gitu"


Pernah gini kah? 

Atau, Aku baik-baik saja? 

Aku bahagia kok? 

Aku mah bersyukur aja.. 


Nah, hal-hal di atas itu biasa disebut dengan stres. Eittss, kok baik-baik saja disebut stres juga sih? 

Menurut ahli psikologi perkembangan, Santrock (2005). Stres adalah respon individu terhadap keadaan atau peristiwa yang mengancam individu tersebut dalam mengatasi stres. 

Nah, respon yang negatif menimbulkan namanya distres, respon positif menimbulkan eustres

Di dalam mengasuh sendiri terdapat aktivitas yang berhubungan dengan pemenuhan pangan, pemeliharaan fisik, dan perhatian terhadap anak (Bahar, 2002). Stres Pengasuhan merupakan ketidakberfungsian peran orangtua dalam mengasuh serta berinteraksi dengan anak yang disebabkan adanya ketidaksesuaian respon orangtua dalam menanggapi masalah anak, sehingga akan mempengaruhi kelangsungan hidupnya. 

Kamis, 02 Desember 2021

Rekap Jawaban Mentor Webinar 1

 Rekap Jawaban Mentor Webinar 1


Kak Wylvera


  • Nama: SITI PURNANING A.

Pertanyaan: Anak2 sy hobby bercerita & bermain peran (setiap wkt berkumpul, langsung cerewet bercerita nyata maupun khayalan atau spontan main peran dg kakaknya). Nah, sy ingin bakat itu bs mereka tuangkan dlm bentuk tulisan. Trnyata ketika sy minta menulis, bahasanya persis spt saat bercerita itu..polos tdk 'nyastra' sm sekali. Ketika sy beritahu pilihan bahasa yg indah, mereka tidak paham krn belum mengenal dlm dialog sehari2.  Pertanyaan sy: bgmn strategi/kiat mbak2 Narsum utk menumbuhkan kepekaan pemilihan bahasa sastra utk pemula/anak2. Trimakasih 🙏🥰

Ditujukan kepada: mbak Wylvera W.


Jawab:

Jangan terburu-buru dipaksakan. 

Memang ada anak yang memiliki kemampuan lisan dan tulisan yang seimbang, tanpa butuh pelatihan yang berulang-ulang. Tapi ini sedikit sekali jumlahnya. 


Dari pengalaman saya mengajar kelas ekskul menulis dan jurnalistik di level sekolah dasar selama 7 tahun, saya pun belum menemukan anak yang memiliki dua kemampuan lisan serta menulis yang berimbang ini. Apalagi dituntut untuk menulis bahasa yang nyastra.


Ada yang jago banget saat bercerita dengan temannya. 

Dia bisa menceritakan kalau mamanya selalu memasakkan nasi goreng pakai telor ceplok setiap hari. Sementara dia sudah bosan banget. Nasi goreng lagi nasi goreng lagi, lalu dengan ekspresi muka bete dia ceritakan ke teman sebangkunya kalau dia belakangan jadi jarang menghabiskan nasi goreng masakan mamanya. Supaya mamanya berpikir untuk membuat sarapan lain yang lebih bervariasi. 


Saya yang menguping obrolan itu (saat tugas praktik menulis cerita di kelas ekskul yang saya gawangi waktu itu), mencoba meminta anak itu menulis semua yang diceritakannya dalam tulisan. Apa yg terjadi? 

Pertanyaan spontan yang pertama kali dilontarkannya adalah “Gimana cara nulisnya Bu? Saya nggak ngerti.”


Nah lho! 

Jadi Mbak Siti, untuk anak-anak yang memiliki kemampun lisan yang baik, memang harus sering dilatih agar kemampuan menulisnya bisa sejalan. Sekali lagi nggak bisa instan. Latih juga anak-anak untuk terbiasa membaca. Sering-seringlah memberikannya bahan bacaan atau buku-buku cerita dan ajak dia membaca buku-buku itu bersama. Ingatlah, bahwa jarang sekali atau bahkan tidak pernah ada kebiasaan baik yang bisa ditiru anak selama orangtua sendiri tidak pernah mencontohkannya dengan baik. 

Teaching by actualizing. Ini tidak bisa dilakukan sekali saja. Harus terus menerus untuk melatih kepekaannya pada bahasa tulisan. Sekali lagi, perkaya si anak dengan bahan bacaan, lalu minta ia untuk menuliskan ulang cerita yangg sudah dia baca dengan versinya. Jika masih belum mencapai target, jangan cepat menyerah. Mengulang-ulang itu jauh lebib baik ketimbang menginginkan target yang instan.

Tanya Jawab Materi Branding

Pertanyaan 1: Maaf saya mau tanya:  1. Bedanya logo sama brand board itu apa?  2. Tapi saya bikin logo instansi itu ndk blh kan? Harus logo ...