Narsum: Ailiasabila
Moderator: Yumi
Notulen: Rizka Puspitasari
___
Bismillah
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh teman-teman 🤍
MasyaAllah, sebelumnya terima kasih atas antusias praktik refleksinya ya teman-teman.
Dari hasil analisa refleksi, persoalan internal yang berhasil dikumpulkan ada 15 kondisi, yaitu:
1. Tentang mendahulukan orang lain
2. Ragu / kurang percaya diri pada diri sendiri
3. Merasa tidak punya waktu/ sibuk/ time management yang masih berantakan
4. Merasa kehilangan semangat saat melihat keberhasilan orang lain di sosial media
5. Merasa malas dan mager
6. Udah daftar kelas tapi tidak mengikuti prosesnya
7. Punya keterbatasan alat
8. Overthinking
9. Sering menunda
10. Takut gagal
11. Pengen keluar dari zona nyaman
12. Perasaan saat menerima kritik
13. Membandingkan diri
14. Pengen lembut sama diri sendiri
15. Kalo aku introvert gimana
Kira kira kondisi mana aja nih yang mungkin relate sama teman-teman?
InsyaAllah semua ini akan kita optimalkan bahas malam ini ya teman-teman. Mungkin akan cukup panjang. Tapi kita coba dulu yuk untuk bahas.
Note :
- 15 kondisi ini diambil dari pengumpukan tugas siang tadi (yang sudah dicek)
- Teman-teman yang baru meyusul gapapa, akan tetap direspon bertahap
1. Aku terbiasa mendahulukan orang lain, tapi aku lupa diriku sendiri
Banyak diantara kita yang sering tenggelam dalam satu kebiasaan mengutamakan orang lain lebih dulu.
Bukan karena kita tidak punya mimpi.
Bukan karena kita tidak ingin berkembang.
Tapi karena dari dulu kita belajar menjadi orang yang bisa diandalkan. Yang lebih sering untuk :
- Mengerti keadaan orang
- Cepat mengalah
- Menunda keinginan sendiri
- Merasa bersalah kalau memilih diri sendiri
Dan lama-lama, itu terasa seperti kebaikan. Padahal pelan-pelan… itu berubah jadi kehilangan diri sendiri. Kenapa ini sering terjadi?
Karena banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan yang tidak pernah diucapkan, tapi tertanam kuat, misalnya :
"Aku berharga kalau aku berguna.""Aku orang baik kalau aku mengalah.""Aku pantas istirahat nanti saja, setelah semua beres."
Tanpa sadar, kita mulai mengabaikan kebutuhan diri kita sendiri.
Kita merasa cukup kalau orang lain tenang, terbantu, dan puas. Meski hati sendiri capek, kosong, dan tertunda. Dampak dari hati yang lelah bagi perempuan itu akan menjadi rantai emosi yang panjang.
Jadi kalo seorang ibu dianjurkan makan lebih dulu, bukan karena dia nggak sayang sama anak. Tapi bentuk menjaga emosi dan energi. Saat semua ini aman dan normal, membersamai anak akan lebih optimal dan tenang. Lebih mudah kontrol diri (contohnya begitu).
__
Dalam kondisi ini mungkin kita merasa punya kasih sayang, takut dibilang egois, takut dianggap berubah, takut tak lagi disukai, takut tidak lagi dibutuhkan. Padahal yang sedang terjadi bukan kita jadi egois. "Tapi sedang di fase mendengarkan dan memahami diri sendiri yang sudah terlalu lama kita abaikan."
Dan tubuh, hati, serta pikiran… mulai berikan tanda kayak sering :
- Capek tanpa sebab jelas
- Kehilangan semangat
- Mudah menunda
- Susah fokus belajar
- Merasa hampa walau sibuk
Itu bukan malas. Ini jiwa yang 'kelelahan.'
Menjaga diri bukan egois, menjaga diri adalah amanah.
Kita tidak hanya punya tanggung jawab pada orang lain. Kita juga punya tanggung jawab pada diri kita sendiri. Pada tubuh, waktu, mimpi, dan potensi yang Allah titipkan. Kalau kita terus memberi tanpa mengisi, yang habis bukan cuma tenaga…tapi juga harapan. Jadi, kapan kita boleh memprioritaskan orang lain?
Yaitu, saat kita MAMPU, bukan saat kita sudah hampir 'runtuh.'
Kita membantu tanpa mengorbankan hak dasar diri, seperti:
- Waktu istirahat- Waktu ibadah- Waktu belajar- Kesehatan mental
Batas bukan tanda kita jahat kok.
Batas adalah tanda kita menghargai diri sendiri.
Hindari seperti lilin ya guysss. Yang menerangi tapi membakar dirinya sendiri. Pilih opsi terbaik untuk diri kita dan orang lain.
Prinsip yang bisa kita terapkan:
"Aku boleh menjadi orang baik tanpa harus kehilangan diriku sendiri."
"Aku tetap berharga meski hari ini aku memilih diriku sendiri."
2. Aku kurang percaya diri, aku ragu sama diriku sendiri
Ada rasa yang sering tidak kita ceritakan ke siapa pun. Rasa yang muncul diam-diam setiap kali ingin melangkah. Bukan karena kita tidak mau. Bukan karena kita tidak punya niat. Tapi karena ada suara kecil di dalam kepala yang berbisik:
"Kamu yakin bisa?""Kamu emang pantes?""Kamu gak kayak mereka."
Dan suara itu terdengar sangat meyakinkan. Karena sering kali, itu bukan suara orang lain lagi. Itu suara yang sudah lama kita simpan di dalam diri. Banyak dari kita tumbuh dengan pengalaman :
- Usaha yang jarang dihargai
- Hasil yang lebih sering dikritik daripada diapresiasi
- Dibandingkan dengan orang lain
- Atau pernah mencoba, lalu gagal, dan tidak diberi ruang untuk belajar
Lama-lama, tanpa sadar, kita menarik kesimpulan sendiri bahwa :
"Aku harus siap dulu baru boleh melangkah.""Aku harus yakin dulu baru boleh mencoba."
PADAHAL… keyakinan itu tidak selalu datang sebelum kita bergerak. Tapi setelah kita berani memulai langkah walau dengan berbagai bumbu rasa di hati kita. Kurang percaya diri bukan berarti kita enggak mampu. Sering kali itu tanda kalau :
- Terlalu keras pada diri sendiri
- Takut mengulang luka yang sama
Mungkin kita ingin hasil yang baik, tapi takut prosesnya menyakitkan. Jadi kita mudah berhenti bisa jadi bukan hanya karena malas, tapi karena takut terluka lagi. Percaya diri bukan syarat untuk memulai. Percaya diri adalah hasil dari keberanian mencoba. Orang yang terlihat yakin bukan karena mereka enggak takut. *Tapi karena mereka tidak menunggu rasa yakin untuk melangkah.*Sering kita mengira yakin itu tidak ragu, tidak takut, tidak gemetar. Padahal yakin yang sehat itu bisa dengan bilang :
"Aku belum sepenuhnya yakin, tapi aku bersedia belajar."
"Aku boleh kok salah, dan aku tetap akan melanjutkan langkah."
Yakin bukan soal perasaan. Yakin adalah keputusan yang diulang tanpa tapi.
❌ “Aku gak bisa.”
Coba ganti pelan-pelan, bukan dengan memaksa, tapi dengan jujur:
✅ "Aku belum bisa, tapi aku mau belajar."
✅ "Aku takut, tapi aku tetap melangkah walaupun perlahan."
✅ "Aku gak harus jago hari ini, tapi aku terus belajar."
Kalimat-kalimat ini bukan hanya afirmasi. Tapi kunci membuka izin pada diri untuk bertumbuh. Kalau hari ini kita merasa ragu, itu tanda kita peduli dengan proses kita. Dan orang yang peduli, sebenarnya sedang menyiapkan dirinya untuk tumbuh. Tinggal kita memilih mau fokus pada rasa ragunya atau fokus pada langkah yang diambilnya. Kita hanya perlu menjadi pribadi yang mau terus mencoba ya mentemen.
3. Aku merasa gak punya waktu, padahal aku ingin bertumbuh
Mungkin banyak hari yang bikin terasa penuh. Terasa seharian sibuk tapi entah kenapa, enggak ada satu pun yang benar-benar untuk diri sendiri.
"Aku pengen belajar, tapi waktunya gak ada."
"Nanti aja kalo udah longgar."
"Sekarang mah belum bisa fokus."
Kalimat yang kayak masuk akal dan bisa bikin kita percaya sepenuhnya. Banyak dari kita hidup dalam mode bertahan, bukan bertumbuh.
Hari-hari diisi dengan kewajiban, kebutuhan orang lain, urusan yang tidak pernah benar-benar selesai. Dan setiap kali ingin menyisihkan waktu untuk diri sendiri, muncul rasa bersalah. Padahal, yang kita tunda bukan cuma belajar, yang kamu tunda adalah masa depan kita sendiri.
Persoalannya sering bukan tidak punya waktu, tapi tidak memberi izin pada diri sendiri. Izin untuk duduk TENANG & FOKUSS. Kita sering berpikir:
"Nanti kalo udah longgar…"
Padahal hidup jarang sekali benar-benar longgar. Urusan tuh selalu ada aja gituu. Kalau menunggu waktu ideal, kita akan menunggu lama.Waktu tidak ditemukan. Waktu diciptakan.
Dan waktu untuk diri sendiri bukan hadiah, bukan kalo sempet aja. Itu kebutuhan (perlu diusahakan). Orang yang terus mengabaikan kebutuhannya, akan kehabisan tenaga bahkan untuk hal yang ia cintai.
Manajemen waktu bukan tentang jadwal yang rapi. Tapi tentang keputusan kecil untuk melakukannya walau sebentar dan terjeda jeda. Kita bisa mulai dengan target kecil aja. Misalnya 15–20 menit lakukan satu hal dan fokus. Sedikit tapi rutin lebih mengubah hidup daripada banyak tapi sekali doang.
Belajar tidak harus lama tapi harus hadir. Kalau masih merasa “tetap gak sempet”, coba jujur bertanya pada diri sendiri:
Apakah aku benar-benar tidak punya waktu?
Atau waktuku habis karena pikiranku sudah lelah duluan?
Kadang yang kita butuhkan bukan waktu lebih banyak, tapi beban yang perlu dikurangi. Misal mengurangi overthinking dan scrolling tanpa sadar hehe.
Semangaat yapp.
4. Aku kehilangan semangat saat melihat pencapaian orang lain di sosial media
MasyaAllah udah banyak ya orang lain sudah sampai berhasil, terlihat konsisten, udah panen hasil, seolah hidupnya lebih nyaman dari kita. Mungkin kita juga bertanya:
"Kok aku masih di sini ya?""Apa aku telat?""Apa aku salah jalan?"
Otak kita secara alami 'membandingkan'. Dan sosial media menyajikan hasil, tidak selalu terbuka pada proses.
Yang kita lihat 》》 Pencapaian, senyuman, pengumuman keberhasilan.
Yang enggak kita lihat 》》 Kegagalan yang tidak sepenuhnya terlihat, hari-hari malas, rasa ragu, proses panjang yang melelahkan.
Kita membandingkan proses kita yang masih 'berantakan' dengan hasil orang lain yang sudah selesai. Mereka sedang berada di bab yang berbeda. Pencapaian orang lain bukan bukti kegagalan untuk kita. Itu hanya bukti bahwa perjalanan memang nyata. Kalau ada yang sampai lebih dulu, itu berarti jalannya ada. Dan jalan yang ada… suatu hari juga bisa kita lewati juga.
Energi kita perlu level tinggi, perlu senang saat orang lain merasa senang. Agar kebaikan semakin terjaga dalam diri kita.
Saat semangat kita lagi jatuh, gapapa engga perlu paksa langsung naik. Tapi, peluk dulu. Katakan pada diri sendiri:
"Aku sedang lelah, bukan gagal."
Fokus ke langkah yang akan dilakukan
Karena semangat sering kembali saat kita bergerak, bukan saat kita berlarut dengan rasa jatuhnya.
Kita tidak tertinggal. Kita sedang berjalan di waktu kita sendiri. Dan tidak semua bunga mekar di musim yang sama.
Semangat ya cantik cantikuuu.
5. Aku merasa malas, mager, padahal aku tau ini penting
Mungkin kita udah niat kalo HARI INI MAU MULAI. Tapi begitu waktunya datang…badan berat, pikiran menolak. Akhirnya jadi bilang:
Nanti aja deh
Capek
Gak mood5
Dan setelah menunda, muncul rasa bersalah. Merasa kita males malesan.
__
Banyakk dari kita hidup lama dalam kondisi:
- Capek berkepanjangan
- Tuntutan terus-menerus
- Jarang istirahat secara emosional
Tubuh dan pikiran tuh sebenernya butuh jeda. Ketika tugas terasa terlalu besar, otak memilih menghindar sebagai bentuk 'perlindungan.' Jadi hindari membuat kesan berat dijalani. Yang kita butuhkan bukan tekanan tambahan, tapi fokus buat ukuran langkah yang lebih kecil agar mudah dilakukan.
Jadi menunggu semangat adalah jebakan yang sering membuat kita diam terlalu lama. Fokus pada hal paling kecil yang masih bisa aku lakukan hari ini?
Ketika langkahnya kecil, otak berhenti melawan.
Bergerak yuk walau sedikit. Jadi besok punya rencana mau action apa nih untuk bergerak mendekati mimpi baiknya?
6. Aku udah daftar kelas, tapi aku tidak mengikuti prosesnya
Hati kita sebenarnya sedang penuh harapan saat memutuskan mengikuti sesi belajar. Tapi hari-hari berlalu… materi menumpuk… tugas belum tersentuh… dan akhirnya kita mulai menjauh.
Semakin lama kita menjauh, semakin berat rasanya untuk masuk lagi. Jadi penting sekali untuk memegang prinsip disiplin.
Lakukan apa yang direncanakan sesuai jadwal dan skala prioritasnya teman-teman. Tapi kalo nyatanya ada tantangan lain, jalani langsung seoptimal mungkin. Tidak ada istilah telat untuk belajar. Kita hanya perlu fokus pada saat kita memulai. Fokus pada diri sendiri. Kita tidak harus mengejar semuanya dengan ritme orang lain.
Jadi kalo udah ada niat, dijaga baik baik, dilakukan dengan penuh komitemen disiplin, dan fleksibel jika ada kendala diluar rencana kita. Karena pada akhirnya rencana Allah akan selalu jadi yang paling baik buat kita.
Yuk komitmennya dijaga yuk, disiplin mengikuti jadwal kelasnya.
7. Aku merasa punya keterbatasan alat dan perlengkapan
Mungkin..
HP-ku biasa aja.Laptopku belum ada.Internetku terbatas.Nanti aja kalau alatnya uda lengkap.
Alat canggih, setup rapi, layar besar, koneksi lancar memang mendukung ya mentemen. Tapi yang sebenarnya terjadi di dalam diri keterbatasan alat sering kali bukan masalah utamanya. Karena banyak juga yang memulai langkah dengan keterbatasan dan seadanya.
Kalo kita menunggu alat, kondisi, dan waktu yang lebih baik. Justru menunggu terlalu lama sering membuat mimpi menguap pelan-pelan. Jadi saranku fokus maksimalin apa yang dimiliki sekarang. *Semakin merasa butuh, perlu semakin semangat biar bisa mencapai* perangkat yang kita mau dan butuhkan.
Perangkat itu bukan hanya pelengkap. Tapi alat investasi buat kita. Bisanya aku sebut sebagai investasi perangkat. Kalo kita ada rezekinya untuk beli barang yg support kita untuk berkarya, itu bukan sia sia. Itu kita sedang berinvestasi pada perangkat, dengan wasilah dukungan perangkat yang cukup kita targetnya punya kebaikan lain yang bisa kita berikan dan dapatkan.
Jadi sangat worth it buat diperjuangkan ya.
__
Tapi kalo belum memungkinkan untuk investasi perangkat di awal. Maka fokus menabung dan menghasilkan dari perangkat yg bisa kita optimalin sekarang
Karena biasanya selalu ada jalan disetiap kemauan. Alat memang mempermudah. Tapi kemampuan dibangun dari proses. Punya alat yang cukup juga tidak menjamin akan konsisten dan lain-lain. Yang membedakan bukan alatnya. Tapi keberanian untuk memulainya. Jadi gak ada rumus pasti yang bilang bisa action kalo ada alatnya.
Kunci action terjadi adalah adanya KEMAUAN.
Keterbatasan kita saat ini bukan tanda untuk kita berhenti. Ia tanda kalo kita perlu lebih semangat untuk berjuang.
Yang penting bukan seberapa canggih alat yang kita miliki, tapi seberapa sering kita berlatih yah.
8. Aku terlalu banyak berpikir (overthinking), sampai capek sebelum mulai
Pikiran kita tuh objek yang paling sibuk. Karena pikiran tidak berhenti bekerja. Kita memikirkan nanti kalo gagal, kalo salah, kalo ditertawakan, gimana nanti kalau rugi, gimana kalo nanti kalau ternyata aku gak sanggup. Overthinking bikin kita kita merasa:
Aku harus memastikan semuanya aman dulu.
Padahal hidup tidak pernah sepenuhnya aman. Dan menunggu aman sepenuhnya justru membuat kita tidak pernah bergerak. Pikiran terus bekerja, tapi tubuh tidak berjalan. Dan itu yang bikin capek. Kita mencoba menenangkan pikiran dengan berpikir lebih banyak, berharap dapat solusi dan jawaban.
Padahal pikiran tidak butuh jawaban tambahan. Ia butuh aksi kecil.
Karena pikiran yang bergerak sendiri akan semakin liar. Tapi pikiran yang mengikuti tindakan, perlahan menjadi tenang. Kita tidak perlu memastikan semuanya benar dan sempurna untuk mengambil satu langkah kecil.
Langkah kecil tidak berbahaya.
Langkah kecil tidak mengikat.
Langkah kecil bisa diperbaiki.
Dan justru langkah kecil itulah yang sering memutus lingkar overthinking.
Kita coba berkata ke diri sendiri misal:
"Terima kasih sudah mengingatkan ya diriku. Sekarang aku akan lakukan satu hal ini (sebutkan hal apa yang akan dilakukan)."
Tidak semua keputusan harus sempurna. Banyak hal bisa diperbaiki sambil berjalan. Berpikir itu penting, tapi bergerak itu jadi kunci penyelamat overthinking. Ambil satu langkah kecil. Dan biarkan pikiran ikut berjalan bersama langkah itu.
Fokus saja untuk berpikir dan memvisualkan "GIMANA KALAU INI BERHASIL"
Bismillah ya, tolongin kami ya Allah.
9. Aku menunda, karena aku merasa masih punya waktu
"Nanti aja, masih ada waktu kok"
Kalimat sederhana yang menjadi penunda paling berbahaya. Kenapa menunda karena “masih ada waktu” terasa aman?
Karena kalimat itu memberi kita rasa lega sementara. Dengan bilang 'nanti', kita jadi ngerasa:
- Belum gagal
- Belum salah
- Belum mengecewakan diri sendiri
Kita merasa aman… Padahal yang terjadi sebenarnya adalah menyimpan beban di masa mendatang.
___
Menunda tidak selalu berarti rebahan dan tidak melakukan apa-apa. Kadang menunda hadir dalam bentuk:
- Scrolling sambil merasa 'aku lagi istirahat'
- Sibuk pada hal kecil tapi menghindari yang penting
- Merapikan ini itu tapi menunda inti tugas
- Menunggu waktu yang lebih tenang
- Berpikir, mencatat, merencanakan… tanpa eksekusi
Secara fisik kita bergerak. Tapi secara arah, kita diam di tempat. Menunda sering kali bukan hanya soal waktu, tapi soal emosi yang belum siap dihadapi. Bisa jadi:
- Belum siap menghadapi rasa capek
- Belum siap melihat hasil yang biasa saja
- Belum siap konsisten
- Belum siap menerima bahwa proses itu lama
Dan kalimat 'masih ada waktu' menjadi cara paling halus untuk menjauh dari ketidaknyamanan bertumbuh. Waktu terus berjalan. Tapi waktu, kondisi hati dan energi tidak selalu menunggu kesiapan kita. Kita sering berkata 'nanti', tapi lupa bahwa:
- semangat bisa berubah
- kesempatan bisa bergeser
- prioritas bisa bertambah
Jangan tunggu waktu luang 👉 jadwalkan waktu kecil
Jangan menunggu siap 👉 mulai saat ragu
Jangan menunda yang penting demi yang nyaman
10. Aku takut gagal. Takut rugi. Takut ternyata aku tidak berhasil
Ada ketakutan yang jarang kita ucapkan dengan lantang. Bukan karena kita tidak berani, tapi karena ketakutan ini terasa dewasa dan masuk akal. Mungkin kita berkata:
Aku cuma mau hati-hati.Aku gak mau salah langkah.Aku gak mau buang waktu dan tenaga.
Kata kata ini enggak muncul begitu aja, biasanya ada pengalaman yang menjadi pendorongnya. Karena banyak dari kita:
- pernah mencoba, lalu gagal- pernah berharap, lalu kecewa- pernah berusaha, tapi hasilnya tidak sesuai- pernah rugi secara tenaga, waktu, atau perasaan
Dan luka itu tidak hilang begitu saja ternyata. Ia tinggal di dalam, lalu muncul sebagai kewaspadaan berlebihan. Saat kita takut gagal atau rugi, yang sebenarnya kita takuti bukan hasilnya.
Yang kita takuti adalah rasa malu, menyesal, rasa "aku ternyata belum bisa". Gagal terasa bukan hanya sebagai peristiwa, tapi sebagai vonis terhadap diri sendiri. Dan karena itu, kita memilih tidak mencoba daripada menghadapi kemungkinan kecewa.
Kita sering melihat kegagalan sebagai:
- Tanda aku salah.
- Tanda aku gak cocok.
- Tanda aku gak berbakat.
Padahal sering kali kegagalan adalah:
- Tanda kita sedang belajar
- Tanda kita sedang berproses
- Tanda kita sedang mengumpulkan data dan pengalaman
Tidak semua hasil yang belum sesuai berarti kita salah jalan.
Tidak ada proses bertumbuh tanpa risiko. Tapi ada satu risiko yang pasti merugikan yaitu tidak mencoba sama sekali. Karena ketika kita tidak mencoba kita tidak kehilangan uang, tapi kita kehilangan kesempatan, & kehilangan kepercayaan pada diri kita sendiri.
Dan kehilangan kepercayaan diri jauh lebih mahal dari kegagalan apa pun.
Rugi bukan saat mencoba lalu hasilnya belum sesuai
Rugi adalah saat kita berhenti bertumbuh, berhenti belajar dan mengubur potensi karena takut.
Setiap proses yang kita jalani, meski hasilnya belum seperti harapan,
selalu memberikan kita pengalaman, pemahaman, kedewasaan. Dan itu TIDAK PERNAH SIA SIA.
Keberanian itu bukan tidak takutKeberanian adalah tetap melangkah meski takutKegagalan itu bukan identitasKegagalan adalah bagian perjalanan
Kalau hari ini kita sedang ragu, itu bukan tanda kita lemah. Itu tanda kita sedang menjaga diri kita. Tapi ingat, menjaga diri tidak harus berarti berhenti.
Kadang menjaga diri berarti berani bilang :
"Aku takut… tapi aku tetap melangkah pelan."
Dan langkah pelan itu bisa mengubah hidup kita lebih dari apa yang kita bayangkan.
11. Aku ingin keluar dari zona nyaman, tapi aku takut
Banyak dari kita sebenarnya sudah tidak nyaman. Tapi kita menyebutnya "zona nyaman". Kita tau hidup kita bisa lebih berkembang, potensi kita belum sepenuhnya terpakai, ada versi diri yang ingin kita datangi.
Tapi setiap kali ingin melangkah keluar, muncul rasa:
Takut salah.Takut gak sanggup.Takut malah lebih capek.
Dan akhirnya… kita tetap tinggal (tak bergerak). Zona nyaman itu engga selalu menyenangkan. Kadang zona itu juga melelahkan, membosankan, dan bikin kita merasa tertahan. Tapi ia memberi satu hal penting, yaitu rasa aman.
"Dan otak manusia secara alami lebih memilih aman daripada bertumbuh."
Bukan karena kita malas, tapi karena otak kita ingin melindungi kita. Keinginan keluar dari zona nyaman sering berbenturan dengan rasa takut kehilangan. Kita takut kehilangan kendali dan kestabilan.
Padahal yang kita hadapi bukan ancaman nyata. Tapi ketidakpastian. Dan ketidakpastian selalu membuat jantung berdetak lebih cepat. Kita mengira keluar dari zona nyaman harus berarti perubahan besar, keputusan drastis, loncatan jauh. Padahal sering kali yang dibutuhkan hanyalah satu langkah kecil ke arah yang baru. Keluar dari zona nyaman tidak harus ekstrem.
_
Kita tidak perlu siap sepenuhnya untuk bertumbuh. Tidak ada orang yang benar-benar siap saat pertama kali melangkah ke hal baru. Yang ada hanyalah orang yang cukup berani untuk mencoba sedikit.
Kita tidak harus berubah total. Tapi fokus pada apa satu hal kecil yang bisa aku lakukan hari ini?
- Bertanya satu kali- Mencoba satu cara baru- Mengikuti satu sesi belajar- Mengerjakan satu tugas yang biasanya dihindari
Itu sudah termasuk keluar dari zona nyaman kok. Kita tidak perlu melompat jauh. Kita hanya perlu bergerak sedikit. Ketakutan tidak harus hilang untuk bisa maju. Kita tetap aman meski kita belajar hal baru
Keinginan untuk keluar dari zona nyaman adalah tanda bahwa jiwa kita ingin tumbuh. Dan jiwa yang ingin tumbuh tidak perlu dipaksakan, cukup ditemani, satu langkah kecil demi satu langkah selanjutnya.
12. Aku sulit berbesar hati menerima kritik — karena ada luka lama yang belum sembuh
Ada rasa sakit yang muncul bukan karena kritiknya besar. Tapi karena ia menyentuh luka lama. Kritiknya mungkin sederhana. Nadanya biasa. Tapi reaksi di dalam diri terasa dada sesak, pikiran langsung menutup, ingin menjauh, ingin berhenti, merasa kecil dan tidak cukup.
Mungkin ada dari kita tumbuh dalam pola pengasuhan seperti:
- Lebih sering ditegur daripada dipeluk- Lebih sering disalahkan daripada dipahami- Dihargai saat benar, diabaikan saat salah- Diminta kuat, tapi jarang ditemani
Kadang bukan karena orang tua 'jahat'. Sering kali karena mereka juga lelah,
tidak punya bahasa emosi, atau hanya mewariskan cara mendidik yang mereka tau.
__
Kalau salah, aku bikin orang kecewa.Aku harus benar supaya diterima.Aku tidak boleh mengecewakan.
Akhirnya kita tumbuh dengan satu keyakinan bahwa Kesalahan = ancaman. Dan ketika kritik datang di usia dewasa, tubuh kita tidak bereaksi sebagai orang dewasa. Ia bereaksi sebagai anak kecil yang dulu tidak ditemani saat salah. Yang sebenarnya terjadi saat kritik terasa menyakitkan. Yang sakit bukan kritiknya. Yang sakit adalah:
- Memori lama tentang dimarahi- Rasa takut kehilangan penerimaan- Ketakutan dianggap tidak cukup
Kritik menjadi seperti pintu yang membuka kembali ruang luka itu. Dan kita bereaksi bukan karena hari ini…tapi karena masa lalu yang belum selesai. Kesalahan kita hari ini tidak membatalkan nilai kita sebagai manusia. Kritik yang kita terima tidak menghapus hak kita untuk dihargai. Saat kritik datang, latih diri dengan berkata:
Ini masukan untuk pekerjaanku, bukan untuk nilai diriku.
Aku boleh belajar tanpa harus merasa terancam.
Kalau tubuhmu bereaksi duluan (sesak, ingin menangis), itu bukan kegagalan. Itu tanda sistem saraf kita sedang mengingat masa lalu. Tarik napas. Dan berikan jeda. Kita aman sekarang.
Kalo hari ini kita masih merasa berat menerima kritik, itu bukan karena kita rapuh. Itu karena kita pernah tumbuh, tanpa cukup ruang aman untuk salah. Dan sekarang, kita sedang belajar menciptakan ruang aman itu
di dalam diri kita sendiri.
Semangat bertumbuh.
13. Aku sering membandingkan diriku dengan orang lain
Ada kebiasaan yang terasa refleks. Bukan karena kita ingin merendahkan diri. Tapi karena tanpa sadar… kita mengukur diri. Kita melihat orang lain lebih cepat, lebih rapi, lebih konsisten, lebih berhasil.
Lalu hati kita mudah menyimpulkan Aku kurang, tertinggal, dan seharusnya bisa seperti mereka. Perbandingan itu terjadi cepat. Yang hampir berasa otomatis. Mungkin ada dari kita tumbuh dengan dibandingkan sejak kecil, kayak :
Lihat si A, kok bisa?Coba kamu kayak dia.Anak itu lebih rajin. Dll
Mungkin tidak selalu dengan niat jahat ya. Kadang maksudnya hanya sebagai dorongan. Saat kita berkelanjutan membandingkan diri, yang kita cari bukan kemenangan. Yang kamu cari adalah pengakuan, rasa cukup, bukti bahwa kita tidak salah.Dan tanpa sadar, kita menjadikan hidup orang lain sebagai standar hidup kita sendiri.
Kita membandingkan awal perjalanan kita dengan puncak perjalanan orang lain. Kita lupa bahwa mereka punya latar belakang berbeda, punya ritme berbeda, punya luka dan tantangan yang tak kita lihat.
"Kita tidak diciptakan untuk menjadi versi orang lain. Kita diciptakan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri"
Dan versi terbaik itu tidak lahir dari perbandingan, tapi dari kesetiaan pada proses sendiri. Saat kita ingin membandingkan, coba berhenti sejenak dan tanyakan:
Apa yang sebenarnya aku butuhkan sekarang?Apakah aku butuh inspirasi, atau validasi?
Kalau butuh inspirasi → ambil ilmunya.
Kalau butuh validasi → beri dirimu pelukan, bukan hukuman.
Kita tidak perlu lebih cepat dari siapa pun. Kita hanya perlu terus berjalan dan lebih baik dari hari kemarin.
14. Aku ingin lembut pada diriku sendiri, apa pun progresku
Ada kelelahan yang tidak terlihat. Bukan karena pekerjaan terlalu banyak, tapi karena terlalu lama keras pada diri sendiri. Kita terbiasa berkata:
Aku harusnya bisa lebih cepat.Aku kok gini-gini aja.Aku kurang maksimal.
Berasa seperti cambukan kecil yang diulang setiap hari. Lama-lama, hati jadi capek.
Kalau aku keras pada diri sendiri, aku akan maju.
Mungkin dulu kita memang didorong dengan tekanan. Mungkin kita belajar bertahan dengan cara itu. Tapi sekarang…kita bukan lagi anak kecil yang hanya bisa maju kalau ditekan. Kita adalah orang dewasa yang butuh keamanan batin untuk bertumbuh.
Saat kita terus keras pada diri sendiri, semangat cepat habis, rasa percaya diri menurun, proses terasa berat, dan belajar jadi beban. Bukan karena kita tidak disiplin. Tapi karena tidak ada ruang aman di dalam diri. Dan tanpa ruang aman, jiwa akan selalu ingin berhenti.
Kalau aku lembut, nanti aku jadi malas.
Padahal lembut bukan berarti membiarkan. Lembut berarti menguatkan tanpa merendahkan, mengarahkan tanpa menghukum, menemani tanpa meninggalkan tanggung jawab.
Lembut adalah bentuk disiplin yang penuh kasih. Kita tidak perlu menyakiti diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Perubahan yang sehat lahir dari penerimaan, bukan dari keras pada diri sendiri. Saat progres kecil, katakan:
"Hari ini aku mengusahakan, itu cukup.""Aku belum sampai, tapi aku tidak berhenti."
Saat gagal, katakan:
"Aku belajar.""Aku akan coba lagi."
Proses tidak lagi terasa seperti hukuman, tapi seperti perjalanan pulang. Kalau hari ini kita ingin berhenti bukan karena tidak mau, tapi karena terlalu capek…
Mungkin yang kita butuhkan bukan dorongan lebih keras, tapi pelukan dari diri sendiri.
15. Aku introvert, aku malu bertanya, bukan karena aku lemah, tapi karena aku pernah belajar diam
Ada orang yang sebenarnya punya pertanyaan. Punya rasa ingin tau. Punya niat belajar. Tapi setiap kali ingin membuka suara, tubuhnya menahan, mulut terasa berat. Hatinya mungkin berkata:
Jangan sekarang.Nanti aja.Lebih aman diam.
Dan sering kali, kita bilang "Aku emang introvert." Padahal di balik itu, ada rasa yang lebih dalam, yaitu malu. Dari mana rasa malu itu datang? Rasa malu tidak muncul tiba-tiba. Ia sering tumbuh pelan-pelan, dari pengalaman kecil yang berulang. Mungkin dulu:
- Bertanya dianggap bodoh- Salah bicara ditertawakan- Pendapat dipotong- Perasaan disepelekan- Diminta diam demi 'jaga sopan'
Sejak saat itu diam menjadi "strategi bertahan", bukan sifat bawaan. Ketika kamu ingin bertanya di Zoom atau grup, yang bereaksi bukan logikamu. Yang bereaksi adalah sistem saraf, memori lama, rasa takut dipermalukan. Tubuhmu mengira ini situasi berbahaya.
Padahal secara nyata, kita sedang berada di ruang belajar yang aman. Tapi tubuh kita belum tau itu. Malu bukan tanda kita tidak mampu. Malu adalah tanda kita pernah tidak aman. Dan sekarang, kita sedang berada di fase membangun ulang rasa aman itu pelan-pelan. Memulihkan rasa aman untuk bisa bersuara.
Kita tidak perlu memaksa diri kita bicara di depan banyak orang. Mulailah dari yang terasa cukup aman seperti menulis pertanyaan, mengirim chat, bertanya secara personal, membaca ulang dan mencoba sendiri. Setiap bentuk keberanian kecil itu tetap bernilai.
Aku tidak sedang mengganggu.
Aku tidak bodoh karena bertanya.
Bukan untuk meyakinkan orang lain, tapi untuk menenangkan tubuh kita sendiri. Saat semuanya sudah mantap, cobalah untuk melangkah lebih jauh lagi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar